KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih
lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah tentang transportasi laut
Adapun makalah tentang transportasi laut ini telah
kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak,
sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa
menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami
dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar
sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi
lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka
selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin member saran dan kritik kepada kami
sehingga kami dapat memperbaiki makalah agama ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah tentang agama ini
dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi
terhadap pembaca.
Jeuram, 15 Nopember 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
Judul .................................................................................................................. i
Kata
Pengantar ................................................................................................................. ii
Daftar Isi ............................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ....................................................................................................... 1
B. Permasalahan ........................................................................................................ 3
C. Tujuan..................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Karakteristik Dan Keunggulan
Transportasi Laut.................................................. 4
a.
Keunggulan....................................................................................................... 5
b.
Kelemahan........................................................................................................ 6
B.
Sejarah Transportasi Laut ...................................................................................... 7
a.
Kapal Layar...................................................................................................... 8
b.
Kapal Uap......................................................................................................... 8
c.
Kapal Diesel...................................................................................................... 9
d.
Kapal Selam...................................................................................................... 10
C.
Demand/ Penumpang Transportasi Laut................................................................. 11
a.
Demand & Supply Transportasi Laut............................................................... 11
b.
Supply Transportasi Laut Di Indonesia............................................................ 14
D.
Prasarana Transportasi Laut.................................................................................... 18
a.
Sarana............................................................................................................... 18
1.
Kapal........................................................................................................... 18
2.
Kapal Feri................................................................................................... 19
3.
Sampan....................................................................................................... 20
b.
Prasarana........................................................................................................... 20
BAB III PENUTUP
·
Kesimpulan........................................................................................................... 23
·
Saran...................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Transportasi laut memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian dunia dimana pengangkutan barang
merupakan bagian terpenting
dalam bisnis transportasi laut dimana lebih dari tujuh miliar ton barang dikirim
lewat jalur laut setiap tahunnya. Bisnis pengangkutan ini mencapai puncaknya pada tahun
2005
[1].
Keefektifan terhadap operasional pelayaran akan
menurunkan biaya operasional yang
memberikan
dampak yang besar baik bagi
konsumen maupun penyedia layanan transportasi itu sendiri. Perlu diketahui
bahwa kontribusi transportasi laut menjadi semakin penting karena nilai biaya yang
dikeluarkan adalah paling
kecil bila dibandingkan dengan biaya transportasi
darat ataupun udara. Selain itu efisiensi dalam proses
transportasi dan distribusi
menjadi salah satu hal yang penting karena proporsi biaya transportasi bisa
mencapai 66 % dari keseluruhan
biaya logistik.
Manajemen transportasi yang efektif sangat diperlukan dalam menentukan prosedur suplai dan distribusi suatu produk. Perencanaan transportasi yang
baik secara langsung akan berdampak pada biaya total yang
dikeluarkan oleh
perusahaan
untuk mendistribusikan produk-produknya. Salah
satu
dampak
tidak
langsung
dari
manajemen transportasi yang
baik
adalah diperolehnya kepercayaan dari konsumen. Secara sederhana untuk
mengurangi biaya total yang diakibatkan oleh transportasi dapat dicapai dengan mengoptimalkan rute yang ditempuh oleh
tiap
kendaraan dengan cara memilih rute yang
memiliki jarak terpendek. Karakteristik
permasalahan
dalam transportasi ini dikategorikan
kedalam vehicle routing problem (VRP).
Sedangkan permasalahan dalam integrasi penentuan
rute
dan ketersediaan stok dikenal dengan nama IRP (Inventory Routing Problem). Moin dan Salhi [2]
dalam
makalahnya mengatakan
bahwa IRP
dapat
dikatakan
sebagai
pengembangan dari VRP
dimana jika pada VRP jumlah produk yang
didistribusikan
tergantung
dari
order yang dilakukan oleh konsumen dalam satu
periode sedangkan dalam IRP distribusi dari produk dikontrol dan ditentukan oleh
penyuplai dengan suatu input yang diperoleh dari konsumen. Dalam hal ini keputusan yang diambil tidak hanya didasarkan pada penentuan rute tetapi keputusan juga didasarkan untuk
menjawab pertanyaan pada berapa banyak dan
kapan produk
tersebut didistribusikan dengan harapan bahwa
konsumen tidak akan mengalami kekurangan stok
akan
produk. Dengan kata lain IRP dapat
dikatakan sebagai medium term problem
sedangkan VRP dikategorikan sebagai short term problem.
Pada awal kemunculannya VRP maupun IRP
lebih banyak diaplikasikan
untuk memecahkan masalah pada bidang transportasi darat. Namun masalah VRP
maupun IRP juga
dapat
dijumpai
pada
transportasi laut yang mana
kapal
digunakan sebagai sarana angkut. Ronen[3] mengkategorikan permasalahan ini
dengan nama marine inventory routing problem. Permasalahan VRP memiliki pembagian beberapa kategori diantaranya: split and
delivery, multiple trips, multiple product and
multiple compartement. Split and delivery VRP memiliki karakteristik bahwa satu konsumen dapat disuplai oleh beberapa atau lebih dari satu buah vehicle (kendaraan). VRP
dengan multiple trips
memiliki karakteristik
bahwa sebuah kendaraan memungkinkan untuk menempuh lebih dari satu rute dalam satu periode operasinya.Sedangkan pada multiple produk &
compartemen adalah jika beberapa produk dapat diangkut oleh sebuah kendaraan yang memiliki
beberapa kompartemen untuk memisahkan masing-masing
produk dari ketercampuran. Jika melihat dari karakteristik kendaraan yang
digunakan secara umum dapat dibedakan menjadi kendaraan homogenous
dan heterogeneous fleet
dimana keduanya memiliki perbedaan pada kapasitas.
Pada tesis ini akan dilakukan perencanaan terhadap rute dan waktu
pelayaran ( Ship routing & scheduling planning) dari tanker yang
mengangkut bahan bakar minyak milik Pertamina dari depo pusat ke depo – depo daerah. Data yang perlu didapatkan
adalah:
Tujuan
Melakukan optimasi
terhadap rute dan waktu pelayaran kapal pengangkut BBM
PT.Pertamina dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan bahan bakar
minyak pada masing – masing
depo
daerah agar didapatkan rute pelayaran
terefektif, ketepatan waktu pengiriman, dan tercukupinya permintaan masing- masing depo.
Manfaat
a. Dapat
mengetahui kapan,seberapa banyak dan rute
yang dipilih
dalam distribusi BBM PT.Pertamina.
b. Mendapatkan rute pelayaran terefektif, ketepatan waktu pengiriman dan terpenuhinya permintaan
masing-masing
depo.
c. Meminimalkan biaya operasional kapal dan
biaya total distribusi BBM.
Pemasalahan
a. Area yang dijadikan target adalah wilayah region timur saja yang
meliputi pelabuhan –
pelabuhan sebagai berikut :
Waingapu,
Atapupu,
Dilli,Kalabahi,
Larantuka, Maumere, Ende
dan
Reo.Depo
pusat sebagai penyuplai produk adalah Kupang b.
Periode distribusi bahan
bakar minyak ditentukan
bulanan
c. Penempatan jenis bahan bakar minyak pada masing – masing
kompartemen kapal telah ditetapkan
pihak PT.Pertamina (dedicated compartement)
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
KARAKTERISTIK
DAN KEUNGGULAN TRANSPORTASI LAUT
Pelayaran diperairan daratan merupakan salah satu
angkutan orang dan atau barang tertua yang ekonomis dan berwawasan lingkungan
dan untuk daerah pedalaman bisa jadi menjadi satu-satunya moda angkutan untuk
akses ke pasar dan kegiatan sosial lainnya. Moda angkutan dapat berupa rakit
bambu sampai kapal bermotor yang bisa beroperasi di sungai kecil, danau sampai
sungai besar.
Karakteristik utama
Perairan pedalaman mempunyai empat karakteristik
utama:
- Perairan pedalaman merupakan koridor yang mencakup beberapa wilayah kabupaten/kota bahkan propinsi, sehingga langkah yang diambil oleh daerah yang satu dengan daerah lainnya harus terkoordinasi dengan baik.
- Terminal/dermaga dibutuhkan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang atau barang untuk selanjutnya dengan moda jalan disalurkan dengan tujuan akhir.
- Rute yang dilalui biasanya tunggal, kecuali bila dari satu sungai dengan sungai lainnya terhubungkan dengan Anjir seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Selatan.
- Pengendalian navigasi perlu dikendalikan bila lintas alur pelayaran pedalaman ini digunakan untuk berbagai keperluan, angkutan barang, penumpang dan wisata.
Untuk mendapatkan suatu sistem tranportasi perairan
pedalaman yang baik, perlu dilakukan perawatan, pengendalian dan pengaturan dan
bila diperlukan dengan menetapkan tarip untuk penggunaan alur pelayaran seperti
yang dilakukan di Ambang Barito.
A. Keunggulan
Secara teknis,
karakteristik angkutan perairan daratan memberikan keunggulan kepada moda
tersebut untuk bersaing dengan moda lain. Keungggulan-keunggulan penggunaan
angkutan di perairan daratan tersebut antara lain:
1.
Pada daerah yang mempunyai sungai yang bisa
digunakan untuk transportasi, maka tidak perlu dibangun infrastruktur baru
selain dermaga bongkar muat karena telah tersedia secara alami. Di India,
dengan panjang jalur transportasi yang sama, biaya untuk mengembangkan angkutan
perairan daratan hanya sekitar 5% hingga 10% dari biaya mengembangkan jalan tol
4 lajur ataupun membangun jaringan kereta api.
2.
Infrastruktur sungai hanya perlu
dipelihara dengan biaya yang murah sehingga kapasitas infrastruktur umumnya
akan mencukupi. Di India, dengan panjang jalur transportasi yang sama, biaya
pemeliharaan angkutan perairan daratan hanya sekitar 20% dari biaya
pemeliharaan jalan;
3.
Berperan sebagai angkutan utama untuk
daerah terpencil (remote area) dimana konstruksi jalan belum atau mahal untuk
dibangun;
4.
Mempunyai tingkat keselamatan yang lebih
tinggi dibandingkan angkutan jalan dari aspek kecepatannya yang rendah,
terutama bila dilengkapi dengan peralatan keselamatan yang memadai;
5.
Amat cocok untuk angkutan wisata,
seperti yang sudah mulai dikembangkan di sungai-sungai besar Kalimantan maupun
di sungai Musi ;
6.
Mampu mengangkut secara langsung dari
angkutan perairan laut dalam ke perairan daratan dan sebaliknya.
7.
Mampu mengangkut dengan volume besar,
sepanjang kedalaman dan lebar alur sesuai dengan kapal yang digunakan;
8.
Penggunaan bahan bakar lebih efisien,
walaupun semakin tinggi kecepatan kapal penggunaan bahan bakar akan meningkat
secara eksponensial, sehingga angkutan perairan lebih sesuai untuk barang
dengan nilai rendah dan volume besar;
Hubungan
antara konsumsi bahan bakar dengan kecepatan kapal jarak tempuh untuk
mengangkut satu ton muatan dengan konsumsi bahan bakar yang sama
B. Kelemahan
Pada sisi lain, karakteristik
angkutan perairan daratan juga mempunyai kelemahan antara lain:
·
Mempunyai hambatan alam (tergantung pada
kedalaman dan kelebaran alur);
·
Fluktuasi air pada musim kemarau;
·
Pada musim hujan terkadang terjadi
banjir;
·
Rawan terjadinya pendangkalan dan erosi
tebing sungai;
·
Kecepatan relatif lebih rendah;
·
Tingkat reliabilitas kurang terjaga;
·
Kurang fleksibel karena jangkauan daerah
(catchment area) yang kecil di sepanjang aliran alur saja;
·
Aksesibiltas rendah karena terkadang
sulit dijangkau dari jalan;
·
Ada kecenderungan angkutan untuk over
capacity;
·
Investasi tinggi untuk kapal baru;
·
Tingkat kenyamanan yang rendah untuk
angkutan penumpang;
·
Budaya yang konservatif dan tradisional
pada operasional penyediaan jasa angkutan perairan daratan;
·
Peran yang kecil (modal share) pada
sistem transportasi; dan
·
Waktu operasi terbatas karena pada malam
hari sulit berlayar dengan sarana bantu navigasi yang terbatas.
B. SEJARAH
TRANSPORTASI LAUT
Menurut
catatan sejarah, bangsa Mesir merupakan bangsa yang pertama kali menggunakan
kapal sebagai alat untuk perniagaan sekitar tahun 6000 SM. Pada waktu itu Mesir
memperdagangkan gandumnya ke kawasan Libanon yang menghasilkan tekstil untuk
bahan pakaian.
Bangsa
Punisia merupakan pelaut-pelaut yang berani pada zaman dahulu. Mereka mendiami
daerah pantai diantara pegununganLibanon dan laut Tengah. Bangsa ini telah menjelajahi
seluruh seluruh pelosok laut tengah dengan kapal-kapalnya. Bahkan mereka telah
berhasil menelusuri pantai hingga ke tanah Inggris. Kapal-kapal bangsa Punisia
disebut Galley. Yang dibuat dari kayu sejenis pohon cemara, memakai tenaga
layar sertabeberapa orang pendayung. Kapal jenis ini pada waktu itu berlayar
sangat cepat serta lebih mudah dari kapal layar biasa. Pada kedua sisi kapal,
terdapat sederetan tempat duduk bagi para pendayung. Bangsa Punisia terkenal
sangat berani melakukan pelayaran ke negara-negara lain sehingga perdagangan
sangat ramai dan juga penyebaran ilmu.
Pada abad ke 5 lalu lintas laut tengah sudah sangat maju. Pada waktu itu
ditemukan layar sejenis lateen yang berbentuk segitiga. Memasangnya membujur
sepanjang tubuh kapal. Sebelum penemuan penemuan layar bentuk lateen, layar
berbentuk segi empat, dipasang melintang terhadap tubuh kapal. Tanpa
menggunakan navigasi pelaut-pelaut zaman dahulu telah berani mengarungi lautan,
salah satu pedoman yang mereka gunakan hanyalah garis pantai, disamping tanda
pengenal tertentu yang nampak dari lautan.
Bukti tertua mengenai penggunaan
kapal di Nusantara ditemukan di situs kerajaan Sriwijaya di daerah Palembang,
namun sangat tidak lengkap. Indikasi bahwa nenek moyang bangsa Indonesia sudah
menggunakan kapal sebagai sarana transportasi baik untuk kepentingan militer
maupun untuk kepentingan ekonomi ditemukan pada relief candi Borobudur yang
dibangun pada abad IX Masehi. Kapal yang dipahatkan di candi tersebut mempunyai
kesamaan dengan kapal jenis kora-kora sebagaimana yang telah digambarkan oleh
orang-orang Eropa pada saat pertama kali datang ke Indonesia. Lambung kapal
Borobudur memiliki sepasang penggandung (outrigger) yang terapung dan berfungsi
sebagai penyeimbang serta tempat para pendayung. Kapal Borobudur memiliki dua
tiang layar berkaki tiga untuk mengibarkan layar empat persegi yang pada
kapal-kapal Yunani kuno disebut sebagai artemon
Seiring
perkembangan zaman kapal pun mengalami perkembangan yang kemudian dibedakan
dalam beberapa jenis kapal diantaranya.
1. Kapal layar
Kapal layar adalah sebuah kapal besar yang
bergerak dengan menggunakan layar yang memanfaatkan tenaga angin sebagai
pendorongnya. Konstruksi Kapal ini umumnya terbuat dari kayu dan cukup lama
digunakan sebagai tulang pungung pelayaran baik bersifat sipil maupun militer
sampai penemuan mesin uap dan kapal besi/baja pada abad ke 19 seiring dengan
ramainya Revolusi Industri yang dipelopori oleh Inggris melalui penemuan mesin
uap oleh James Watt. Kapal layar ini akan berkecepatan tinggi apabila semakin
kencang angin yang berhembus. Tapi apabila ada badai , layar dari kapal
tersebut pun mungkin bisa sobek karena tidak kuat menahan kuatnya angin. Pada
awalnya, kapal layar digerakkan oleh tenaga manusia dan layar. Model dari
kapal jenis ini dapat dilihat pada kapal viking, kapal Mesir Kuno,
kapal Romawi Kuno,
dan kapal yang dipakai oleh para penjelajah pulau atau kapal perompak
(bajak laut). Pada masa kini umumnya kapal layar dilengkapi dengan mesin
tempel untuk menghadapi kemungkinan tidak bertiupnya angin pada daerah daerah
tertentu agar tetap melanjutkan perjalanannya. Seiring dengan perkembangan, maka
digunakan kapal layar bercadik seperti yang dijumpai di Indonesia, Kapal dengan
menggunakan layar segitiga seperti yang dijumpai di Timur Tengah dan Kapal
layar segi empat yang digunakan oleh Bangsa bangsa Eropa menjelang memasuki
abad penjelajahan, Serta kapal layar lipat dengan model yang dijumpai di Jepang
ataupun China. Sedangkan kapal layar tradisional bangsa Mesir dibuat sekitar
tahun 3500 SM pada era Kerajaan Lama. Kapal ini digunakan untuk mengarungi
Sungai Nil.
2. Kapal Uap
Setelah pembuatan kapal layar makin
berkembang dan kebutuhan berlayar yang lebih cepat mulai dirasakan, kapal uap
kemudian menjadi primadona transportasi baru. Kapal uap atau yang disebut juga
sebagai a steamer, adalah kapal yang digerakkan dengan tenaga uap yang
menggerakkan propeler ataupun roda kayuh. Kapal uap atau Steamships disingkat
menjadi SS, S.S. atau S/S. Kapal uap mulai digunakan setelah ditemukannya mesin
uap di Inggris oleh James Watt yang memunculkan revolusi industri yang juga
merupakan revolusi bahan bakar sebab pada masa itu mulai digunakan batu bara
dengan skala yang lebih luas menggantikan kayu bakar. Pada pelayaran, ditemukan
oleh John Fitch pada tahun 1787 dengan melayari Sungai Delaware, Amerika
Serikat, kemudian Robert Fulton pada 1802. Cara kerja mesin uap pada kapal
tersebut adalah dengan mengandalkan mesin uap yang menggerakkan roda kayuh yang
ada di buritan. Gerakan roda tersebut menyebabkan kapal bisa terdorong dengan
lebih kencang.
Awalnya
dulu, kapal mesin uap digunakan di sepanjang rute sungai untuk mengangkat
barang-barang perdagangan, lalu mulai dipakai untuk mengangkut penumpang juga.
Sedangkan kapal uap yang ukurannya lebih besar lagi dan digunakan khusus untuk
mengangkut penumpang, disebut kapal samudra.Umumnya kapal tersebut memang
digunakan untuk mengarungi samudra dan dengan konsep yang lebih mewah. Hingga
saat ini, sejumlah kapal uap masih digunakan di beberapa negara untuk
kepentingan wisata. Kegunaan kapal uap adalah untuk membawa barang dagangan
sepanjang rute sungai. Namun, lama-lama berkembang untuk transportasi
penumpang. Seiring berjalannya waktu, kapal uap tidak hanya digunakan sepanjang
rute sungai, tapi juga sepanjang lautan yang luas.
3. Kapal Diesel
Perkembangan dunia perkapalan semakin
pesat. Segala inovasi baru bermunculan untuk meningkatkan mutu pelayaran. Tahun
1892, Rudolf Diesel mendapat hak paten atas ciptaannya, mesin diesel. Beberapa
tahun kemudian, mesin diesel mulai merambat ke dunia perkapalan. Kapal tanker
dari Rusia bernama Vandal menandai lahirnya era baru dalam industri perkapalan.
Vandal merupakan kapal laut pertama yang menggunakan mesin diesel sebagai
penggerak utamanya. Perjalanan perdana Vandal dimulai di perairan Volga-Baltic
dan mesin diesel yang dipakai untuk pembuatan kapal menjadi tren baru di
industri perkapalan. Tahun 1920-an, USS Tennesse menjadi kapal pertama yang
menggunakan mesin turbin elektrik. Mesin turbin elektrik kelak akan digunakan
seterusnya sebagai mesin utama dalam pembuatan kapal. Hampir semua kapal perang
bertenaga uap langsung di tiadakan, dan diganti dengan kapal bermesin diesel
yang memiliki banyak keuntungan.
Tahun 1930, lahirlah tiga kapal tempur
kelas pocket battleship dari galangan kapal Jerman. Sekedar informasi, pocket
battleship adalah jenis kapal perang (battleship) yang berat tonasenya tidak
melampaui standar berat tonase battleship (sekitar 40.000-an ton). Biasanya,
pocket battleship memiliki bobot yang ringan, ada yang dibawah 10.000 ton
tetapi ada juga yang tepat atau justru kelebihan walaupun sedikit.
4. Kapal Selam
Kapal selam adalah kapal yang bergerak
di bawah permukaan air, umumnya digunakan untuk tujuan dan
kepentingan militer. Sebagian besar Angkatan Laut memiliki dan mengoperasikan
kapal selam sekalipun jumlah dan populasinya di masing-masing negara berbeda.
Selain digunakan untuk kepentingan militer, kapal selam juga digunakan untuk
keperluan ilmu pengetahuan laut dan air tawar dan untuk bertugas di kedalaman
yang tidak sesuai untuk penyelaman oleh manusia. Sejarah perancangan kapal
selam dimulai pada tahun 1578 oleh seorang ahli matematika bernama William
Bourne. Ia merancang sebuah kapal yang dilapisi oleh kulit yang kedap air,
namun hal tersebut tidak dapat diwujudkan. Kemudian pada tahun 1620, seorang
warga Jerman bernama Cornelis Drebbel, membuat kapal yang berhasil menyelam
sedalam 360 sampai 450 cm dengan didayung oleh 12 orang. Seorang pastor Italia
bernama Giovanni Alfonso Borelli pada tahun 1680 juga merancang kapal selam
yang digerakkan dengan dayung dan memakai kantung-kantung pengapung dari kulit
kambing. Namun rancangan itu tetap tinggal di atas kertas, dan baru terwujud
ketika orang Inggris, Nethaniel Symons mengkopinya tahun 1747 dan menguji
perahunya di Sungai Themes. Kapal ini mampu bertahan di dalam air selama 45
menit. Kapal selam sederhana tanpa dayung serta peralatan yang lebih maju
dimulai oleh David Bushnell pada tahun 1775. Kapal selam ciptaannya berbentuk
seperti telur, terbuat dari kayu. Kapal selam dengan penggerak bukan manusia
dimulai oleh Robert Fulton. Ia menggunakan mesin uap untuk menjalankan kapalnya
dan untuk memudahkan kapal meluncur maju, kapal ini dibuat dengan bentuk
cerutu. Kapal cerutu ini membawa 2 awak kapal dan sudah mampu menyelam selama
beberapa jam. Pada tahun 1954, Angkatan Laut Amerika Serikat membuat
sejarah baru dengan meluncurkan kapal selam pertama bertenaga nuklir bernama
Nautilus. Nautilus pun menjadi kapal selam pertama yang berhasil melintasi
Kutub Utara pada tahun 1958. Prestasi lain diukir oleh kapal selam Triton yang
berhasil mengarungi seluruh lautan di dunia pada tahun 1960. Kapal ini mampu
melintasi jarak sejauh 66.970 km dalam waktu 84 hari saja. Bukan cuma itu, pada
tahun 1960 AS juga telah mulai melengkapi kapal-kapal selam mereka dengan
peluru kendali (rudal) antar benua yang bisa melewati 1.930 km dan
menghancurkan sasaran yang dituju.
C.
DEMAND/ PENUMPANG TRANSPORTASI LAUT
![]() |
Indonesia merupukan negara kepulauan yang
wilayah daratannya di pisahkan oleh wilayah perairan yang sangat luas, sehingga
peran transportasi laut sangatlah penting dalam menghubungkan semua wilayah di
Indonesia. Fungsi transportasi laut pada dasarnya adalah untuk mengangkut
penumpang atau barang dari satu tempat ke tempat lain yang dipisahkan oleh
wilayah perairan. Dengan adannya transportasi laut maka dapat membantu
terciptanya pola distribusi nasional. Namun, untuk dapat mewujudkan hal
tersebut diperlukan suatu sistem transprortsi laut yang efektif, efisien dan
aman.
Perpindahan atau pergerakan (movement) dari penumpang dan
barang merupakan dasar terjadinya perdagangan. Melalui sarana tranportasi laut,
bahan baku maupun barang hasil produksi dari satu daerah dapat dipasarkan ke
daerah lain. Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan terbesar di dunia,
sangat membutuhkan angkutan laut yang dapat menjangkau seluruh
wilayahnya.
Demand
Tranportasi Laut di Indonesia
Perbedaan hasil produksi atau komoditi barang dari satu
daerah dengan daerah lainnya memicu terjadinya perpindahan atau pergerakan
barang untuk dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sementara adanya perpindahan
atau pergerakan (movement) dari penumpang dan barang merupakan dasar
terjadinya perdagangan. Adannya bisnis perdagangan baik di dalam maupun luar
negeri (Export & Import) mempengaruhi permintaan jasa angkutan laut
di Indonesia karena angkutan laut menjadi pilihan sebagian besar masyarakat
Indonesia dalam melakukan aktivitas pengiriman barang.
Produksi angkutan laut Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan,
seiring meningkatnya produksi laut Indonesia maka jumlah mutan yang tersedia
untuk angkutan laut juga semakin bertambah setiap tahunnya, seperti terlihat
pada grafik berikut ini:
Gambar
1 Jumlah Produksi Angkutan Laut Indonesia (Source: Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut, Desember 2009)
Seperti terlihat pada grafik tersebut setiap tahunnya
produksi angkutan laut Indonesia terus meningkat baik untuk di dalam negeri
maupun di luar negeri, dengan produksi angkutan laut yang meningkat jumlah
muatan yang tersedia untuk angkutan laut juga meningkat pada setiap tahunnya
pada akhir tahun 2009 jumlah total muatan yang tersedia mencapai 836,668,838
ton. Pertumbuhan produksi angkutan laut Indonesia, seperti tampat pada grafik 2
dibawah ini:
Gambar
2. Grafik Pertumbuhan Produksi Angkutan Laut Indonesia (Source: Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Desember 2009)
Meskipun sempat turun pada tahun 2006 – 2008 karena
krisis ekonomi yang terjadi di dunia, namun tidak sampai minus (-) dan pada
akhirnya pertumbuhan produksi angkutan laut Indonesia kembali naik pada tahun
2009 seiring membaiknya perekonomian dunia dengan tingkat pertumbuhan mencapai
7.43%. Permintaan akan jasa transportasi laut tidak hanya terbatas pada
pengiriman barang tetapi juga pada jasa penyeberangan penumpang. Mengingat
indonesia adalah negara kepulauan yang wilayah daratannya dipisahkan oleh
wilayah lautan yang luas, maka dibutuhkan jasa penyeberangan dengan angkutan
laut. Permintaan akan jasa penyeberangan dengan transportasi laut bisa
dikatakan sangat tinggi, terlihat dengan banyaknya jumlah penumpang pada setiap
tahunnya.
Gambar
3. Jumlah Penumpang Transportasi Laut di Indonesia (Source: Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Desember 2009)
Terdapat
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi permintaan (demand) akan
transportasi laut. Faktor-faktor tersebut, antara lain:
a.
Faktor Ekonomi
-
Perkembangan GDP (Gross Domestik Product) suatu
negara.
-
Kondisi perdagangan di dalam dan luar negeri.
-
Kebijakan ekonomi (tarif pajak, bunga dll) yang
dikeluarkan.
-
Struktur ekonomi.
b.
Faktor Politik
-
Terjadinya peperangan.
-
Adannya aliansi politik (MEC, APEC, ASEAN dll).
-
Preference terhadap negara tertentu.
c.
Faktor Teknologi
-
Teknologi transportasi laut
-
Teknologi telekomunikasi.
Supply
Transportasi Laut di Indonesia
Untuk memenuhi
permintaan akan jasa angkutan laut yang sangat tinggi maka diperlukan armada
kapal dengan jumlah yang sangat banyak. Armada kapal yang saat ini beroperasi
di Indonesia dilihat dari kepemilikannya terdiri dari armada nasional dan
armada asing. Kedua armada kapal tersebut bersaing untuk bisa mendapatkan
muatan dengan tujuan pasar dalam negeri maupun luar negeri (export-import).
Sejalan dengan tingginya permintaan akan jasa transportasi laut jumlah kapal
yang beroperasi di Indonesia setiap tahunnya mengalami kenaikan, seperti
terlihat pada grafik 4 sebagai berikut:
Gambar
4. Jumlah Armada Kapal di Indonesia (Source: Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut, Desember 2009)
Dengan jumlah armada kapal nasional sebesar 9.164 unit kapal pada
tahun 2009, kapasitas angkut yang mampu disediakan untuk memenuhi permintaan
adalah sebesar 3.86 juta GRT. Jumlah tersebut masih akan terus bertambah
mengikuti kenaikan jumlah permintaan jasa angkutan di Indonesia.
Grafik
5. Jumlah Kapasitas Angkut Armada Nasional (Source: Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Desember 2009)
Sebelum tahun 2005 jumlah armada asing yang
beroperasi di Indonesia adalah 2,447 unit kapal atau sekitar 30% dari total jumlah
armada kapal yang beropersi di Indonesia. Pada tahun 2005 presiden mengeluarkan
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5/2005 tentang Industri Pelayaran, adanya
Inpres tersebut sedikit demi sedikit telah membangkitkan industri pelayaran di
Indonesia. Pelan namun pasti armada kapal nasioanal setiap tahun jumlahnya
semakin bertambah sedangkan sebaliknya armada kapal asing semakin menurun
jumlahnya.
Dalam Inpres Nomor 5 tahun 2005 dimasukkan asas cabotage yang
mewajibkan pengangkutan komoditas antar-pulau di Indonesia menggunakan kapal
berbendera Indonesia secara bertahap hingga tahun 2010. Dengan adanya asas cabotage
armada kapal nasional dapat tumbuh dan perlahan mengambil alih pasar
pengiriman barang di dalam negeri yang sempat dikuasai oleh armada kapal asing.
Grafik
6. Pertumbuhan Armada Kapal Nasional dan Asing (Source: Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Desember 2009)
Adanya peranan pemerintah dalam industri pelayaran antara lain
dengan mengeluarkan Inpres Nomor 5 tahun 2005 kemudian disusul dengan UU
Pelayaran nomor 17 tahun 2008, membuat pertumbuhan armada nasional menjadi
semakin tinggi sedangkan untuk armada kapal asing pertumbuhannya menjadi minus
(-) karena jumlahnya yang telah jauh berkurang, seperti terlihat pada grafik 6
diatas.
Grafik
7. Jumlah Angkutan Penyeberangan di Indonesia (Source: Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Desember 2009)
Selain jasa pengiriman barang, permintaan akan jasa
penyeberangan dengan meggunakan transportasi laut juga mengalami mengalami
kenaikan setiap tahunnya. Transportasi laut telah menjadi pilihan masyarakat
Indonesia untuk bepergian, namun hal tersebut tidak di ikuti dengan pertumbuhan
jumlah angkutan penyeberangan. Pada grafik 7 terlihat bahwa jumlah angkutan
penyeberangan tidak mengalami kenaikan yang berarti bahkan cenderung konstan
setiap tahunnya. Dengan sejumlah angkutan tersebut pada saat-saat tertentu
misalnya saat hari raya, penumpang harus berdesakan dan bahkan tidak mendapatkan
tempat. Diperlukan penambahan angkutan penyebrangan di Indonesia untuk dapat
mencegah terjadinnya penumpukan penumpang dan barang di pelabuhan, yang dapat
menyebabkan terhambatnya proses distribusi penumpang dan barang.
D. PRASARANA
TRANSPORTASI LAUT
1. SARANA
A.
KAPAL
Kapal,
adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dsb)[1]
seperti halnya sampan
atau perahu
yang lebih kecil. Kapal biasanya cukup besar untuk membawa perahu
kecil seperti sekoci.
Sedangkan dalam istilah inggris,
dipisahkan antara ship yang lebih besar dan boat
yang lebih kecil. Secara kebiasaannya kapal dapat membawa perahu tetapi perahu
tidak dapat membawa kapal. Ukuran sebenarnya dimana sebuah perahu disebut kapal
selalu ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan atau kebiasaan setempat.
Berabad-abad
kapal digunakan oleh manusia untuk mengarungi sungai atau lautan yang diawali
oleh penemuan perahu. Biasanya manusia pada masa lampau menggunakan kano,
rakit
ataupun perahu, semakin besar kebutuhan akan daya muat maka dibuatlah perahu
atau rakit yang berukuran lebih besar yang dinamakan kapal. Bahan-bahan yang
digunakan untuk pembuatan kapal pada masa lampau menggunakan kayu, bambu
ataupun batang-batang papirus seperti yang digunakan bangsa mesir kuno kemudian
digunakan bahan bahan logam seperti besi/baja karena kebutuhan manusia akan
kapal yang kuat. Untuk penggeraknya manusia pada awalnya menggunakan dayung
kemudian angin dengan bantuan layar, mesin uap
setelah muncul revolusi Industri dan mesin diesel serta Nuklir. Beberapa
penelitian memunculkan kapal bermesin yang berjalan mengambang di atas air
seperti Hovercraft dan Eakroplane. Serta kapal yang
digunakan di dasar lautan yakni kapal selam.
Berabad abad
kapal digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang sampai akhirnya pada awal
abad ke-20
ditemukan pesawat terbang yang mampu mengangkut
barang dan penumpang dalam waktu singkat maka kapal pun mendapat saingan berat.
Namun untuk kapal masih memiliki keunggulan yakni mampu mengangkut barang
dengan tonase yang lebih besar sehingga lebih banyak didominasi kapal niaga
dan tanker sedangkan kapal penumpang
banyak dialihkan menjadi kapal pesiar
seperti Queen Elizabeth dan Awani Dream.
B.
Kapal
feri
Feri mempunyai peranan penting dalam
sistem pengangkutan bagi banyak kota pesisir pantai, membuat transit langsung
antar kedua tujuan dengan biaya lebih kecil dibandingkan jembatan atau terowong.
Feri pejalan kaki dengan banyak
pemberhentian, seperti di Venesia, kadang kala
dikenali sebagai bis air atau taksi air.
Sampan
(bahasa Tionghoa: 舢舨) adalah sebuah perahu kayu
Tiongkok
yang memiliki dasar yang relatif datar, dengan ukuran sekitar 3,5 hingga 4,5 meter
yang digunakan sebagai alat transportasi sungai
dan danau
atau menangkap ikan.
Sampan dapat mengangkut penumpang 2 - 8 orang, tergantung ukuran sampan.
Sampan ada kalanya memiliki atap kecil dan dapat digunakan sebagai tempat
tinggal permanen di perairan dekat darat. Sampan biasanya tidak digunakan untuk
berlayar jauh dari daratan karena jenis perahu ini tidak memiliki perlengkapan
untuk menghadapi cuaca yang buruk.
2.
PRASARANA
Pelabuhan
adalah sebuah fasilitas di ujung samudera,
sungai,
atau danau
untuk menerima kapal
dan memindahkan barang kargo
maupun penumpang
ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk
memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Crane
dan gudang berpendingin juga disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak
swasta yang berkepentingan. Sering pula disekitarnya dibangun fasilitas
penunjang seperti pengalengan dan pemrosesan barang. Peraturan Pemerintah RI
No.69 Tahun 2001 mengatur tentang pelabuhan dan fungsi serta penyelengaraannya.
Pelabuhan juga dapat di definisikan sebagai daerah
perairan yang terlindung dari gelombang laut dan di lengkapi dengan fasilitas
terminal meliputi :
- dermaga, tempat di mana kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang.
- crane, untuk melaksanakan kegiatan bongkar muat barang.
- gudang laut (transito), tempat untuk menyimpan muatan dari kapal atau yang akan di pindah ke kapal.
Pelabuhan juga
merupakan suatu pintu gerbang untuk masuk ke suatu daerah tertentu dan sebagai
prasarana penghubung antar daerah, antar pulau, bahkan antar negara.
(Triatmodjo, 2009)
Kapal
yang sedangan dibangun di galangan Gdynia Shipyard
Galangan kapal
adalah sebuah tempat yang dirancang untuk memperbaiki dan membuat kapal.
Kapal-kapal ini dapat berupa kapal pesiar/yacht,
armada militer, cruise line,
pesawat barang atau penumpang.
Negara-negara dengan kemampuan membangun industri
pembuatan kapal besar termasuk Korea Selatan,
Jepang,
dan Republik Rakyat Tiongkok.
Industri pembuatan kapal di Eropa lebih terpecah dibanding dengan di Asia.
Dalam negara-negara Eropa ada lebih banyak perusahaan kecil, dibanding dengan
pembuat kapal di Asia yang lebih sedikit namun besar.
Kebanyakan pembuat kapal di Amerika Serikat
dimiliki pribadi, dengan yang terbesar adalah Northrop Grumman
sebuah kontraktor pertahanan multi-miliar
dolar.
Sebuah lokasi galangan kapal besar akan berisi
banyak crane,
dok kering,
slipway,
gudang bebas-debu, fasilitas pengecatan dan tempat yang sangat luas untuk
fabrikasi kapal-kapal tersebut.
Setelah tidak layak digunakan, kapal tersebut akan
melakukan perjalanan terakhir ke galangan penghancuran kapal,
seringkali di sebuah pantai di Asia Selatan.
Dahulu pemecahan kapal dilaksanakan di dok kering di negara maju,
tetapi gaji tinggi dan peraturan lingkungan telah mengakibatkan pergerakan
industri ini ke wilayah yang sedang berkembang.
BAB II
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Industri
pelayaran, bahkan transportasi Laut yang merupakan salah satu bagiannya
memiliki banyak aspek yang saling terkait. Karena itu, upaya peningkatan daya
saing pada aspek yang relevan perlu dilakukan secara simultan. Aspek relevan
tersebut meliputi Pembenahan
administrasi dan manajemen pemerintahan di laut, termasuk keselamatan dan
keamanan Laut serta perlindungan laut.
Industri
transportasi laut menghadapai situasi pelik, yaitu timbulnya masalah
ketergantungan pada kapal sewa asing dan kelebihan kapasitas armada secara
bersamaan. Pangkal pelik situasi tersebut berasala dari lingkungan investasi
perkapalan yang tidak kondusif. Perusahaan pelayaran yang ingin meremajakan
armadanya , sulit memperoleh dukungan dana. Jika dibiarkan, kepelikan tersebut
akan seperti spiral yang menyeret perusahaan pelayaran kearah keterpurukan yang
semakin dalam.
Hanya
ada satu persyaratan yang dibutuhkan, agar perusahaan pelayaran nasional dapat
keluar dari keterpurukan tersebut, yaitu iklim investasi yang kondusif.
Kondusivitas tersebut diperlukan untuk memberdayakan perusahaan pelayaran,
sehingga perusahaan pelayaran tersebut memiliki beberapa karakteristik kemampuan
dalam hal: mengakses sumber dana keuangan untuk pengadaan kapal yang dibutuhkan
menikmati laba bisnis yang stabil menghindari kemrosotan asset kapal dalam
jangka menengah dan panjang melakukan reinvestasi pada armada yang lebih
berdaya saing.















Terimakasih artikel nya semoga bermanfaat di dunia maritim maupun industry lainya . apa bila ada kebutuhan hot water boiler,thermal oil heater,piping heater barge palka bisa hubungi kami
BalasHapusSalam ,
RATMAN
081388666204
PT.INDIRA DWI MITRA
http://indira.co.id
Terimakasih infonya sangat bermanfaat
BalasHapusjangan lupa kunjungi web kami
www.ppns.ac.id